Posted by Comments Off
Atap rumput dan sky greening didasari pada kepentingan untuk meningkatkan pembangunan yang peduli lingkungan, dan juga merupakan sebuah upaya menghijaukan bagian atap bangunan adalah sebuah solusi logis bagi kompetisi penggunaan ruang. Menurut beberapa catatan, Teknologi atap hijau sudah dikembangkan sejak tahun 600 SM oleh kerajaan Mesopotamia (Raja Nabuchadnezzar II) yang mengembangkan rangkaian teras bersusun yang ditanami pepohonan, semak – semak, rerumputan dan tanaman anggur yang menggantung hingga ujung teras. Disebut dengan Taman gantung dari Babylon, satu dari situs tujuh keajaiban dunia dari peradaban kuno.
Menurut buku the HOK Guidebook to Sustainable Design, atap hijau yang modern terdiri atas lapisan yang cukup sederhana perancangannya, seperti : atap dek, lapisan anti air dan akar, isolasi, lapisan penyaring yang berisi tanah, dan terakhir lapisan tanaman.
Atap hijau bisa lebar atau intensif. Atap hijau yang lebar menggunakan sedikit tanah dan tanaman yang ringan dan mempunyai ketahanan tinggi seperti sedium, rumput dan semak. Didesain utamanya untuk keuntungan ekologis dibanding untuk pemakaian umum, dan juga direncanakan untuk sedikit pemeliharan dan perawatan.
Atap hijau intensif bercirikan menggunakan tanah yang lebih banyak/lebih dalam untuk menyangga tanaman yang lebih besar seperti pohon dan semak belukar. Ini membutuhkan tambahan dukungan struktural untuk mempertahankan beban yang lebih berat, termasuk sistem irigasi dan drainase yang lebih rumit.
Pendukung atap hijau
keuntungan atap hijau cukup jelas. Secara sederhana, atap hijau menyejukkan udara. Dia mengurangi efek urban heat island (suhu wilayah kota lebih tinggi yang mempengaruhi daerah pedesaan, utamanya karena meluasnya permukaan keras yang menyerap radiasi matahari) dengan mengurangisuhu permukaan atap melalui bayangan dan evapotranspiration (ketika uap air sejuk dipancarkan penguapan tanah dan saat tanaman bernafas).
Atap hijau juga mempunyai nilai isolasi yang lebih tinggi, energi lebih sedikit untuk pendinginan bagian dalam gedung, yang akhirnya lebih hemat biaya energinya. Atap hijau juga memperbaiki kualitas udara ketika tanaman menyerap karbon dioksida dan memancarkan oksigen. Mereka menyaring partikel udara pada daun ketika tanaman menyerap karbon dioksida dan memancarkan oksigen.
Atap hijau mengurangi volume dan laju air hujan, merendahkan resiko banjir. Mereka juga menyaring polutan dan metal berat di tritisan sebelum mencapai air terbuka. Keuntungan lingkungan lainnya, atap hijau juga bisa memperpanjang usia pakai atap dengan melindungi selaput dari fluktuasi suhu ekstrim dan sinar ultra violet matahari. Mereka membantu memperindah lingkungan perkotaan dan dalam skala kecil, menambah nilai estetika bangunan properti.
Atap hijau bisa mengganti ruang hijau dan habitat alami yang hilang dalam hutan beton. Atap hijau yang intensif bisa menyediakan ruang bersantai dan pada beberapa kasus, juga bisa membantu membina semangat rasa memiliki dan semangat komunitas. Dan juga, atap hijau menjadi batu pijakan habitat untuk menghubungkan kantung habitat alami kota yang terisolasi, yang setidaknya dapat membantu menjaga satu tingkat keragaman hayati di kawasan kota.
Tren Atap Hijau
Atap hijau dengan bentuk seperti saat ini telah berhasil di kembangkan di Eropa. Pada tahun 1960-an, kemajuan ilmu bangunan dan ketersediaan material baru memicu perkembangan teknologi atap hijau yang modern di sana, menuju ke maraknya pembangunan atap hijau. Prakteknya saat ini paling mapan di Jerman, Swiss, Austria dan Perancis. Walaupun atap hijau tidak lazim di Amerika Utara, penggunaannya sudah tersebar luas dalam beberapa tahun terakhir. Atap hijau pada gedung Chicago City Hall, salah satu contoh awal dan paling terkenal di AS, dibuat tahun 2001 dipakai sebagai eksperimen untuk menguji dampak iklim mikro di atap. Sesudah itu, Chicago sudah melaksanakan sistem insentif untuk mendorong para pemilik gedung dan kontraktor untuk memasang atap hijau di gedung mereka.
Secara umum, ini adalah pemerintah yang mempelopori, lewat inisiatif seperti yang terlihat di Chicago serta melalui peraturan yang dapat dilihat di Jerman yang mendukung penyebaran atap hijau. Kedua mekanisme itu juga sedang dipakai di Asia.
Saat ini Jepang mensyaratkan atap hijau untuk menanggulangi panas perkotaan dan pencemaran udara perkotaan dari pembangunan kota-kota yang sesak.
Pemerintah kota Beijing mengumumkan pada beberapa tahun yang lalu tentang ambisinya untuk membiayai penghijauan sejumlah 100.000 meter persegi atap untuk mengantisipasi Olimpiade 2008. Di Singapura, penghijauan bangunan pencakar langit telah memainkan peran kunci di kota mengisi jargon pemasaran kota yaitu sebagai Kota Taman. Sebagian karena inisiatif pemerintah, Singapura sudah kuat dalam usaha menghijaukan kota sejak 1960-an, menutupi tanah yang ada dengan daun-daunan lebat,menanam pohon dan bunga dimanapun dimungkinkan.
Untuk negara-kota, itu nampak seperti bangunan-bangunan gedung sedang berubah lebih hijau. ”Dari peningkatan jumlah atap hijau yang menarik yang telah dipasang, masukapara pemasok/supplier produk-produk atap hijau di pasaran, ini adalah peningkatan ketertarikan dalam penggunaan atap hijau di Singapura.”
Di Singapura dan kota lainnya di Asia, termasuk Indonesia dimana pertumbuhan penduduk dan perluasan ekonomi nampak dalam pengembangan lahan yang lebih padat, ”langit menghijau” adalah sebuah ”pemecahan logis bagi percepatan pengurangan ruang”.